Cerpen  

Cahaya di Langit Desa

Skanesasoo – Di sebuah desa kecil bernama Nurul Huda, Maulid Nabi bukan sekadar perayaan tahunan—ia adalah momen yang menyatukan hati, menghidupkan semangat, dan menyalakan cahaya cinta kepada Rasulullah .

 

Hari itu, langit tampak cerah. Anak-anak berlarian di halaman masjid, mengenakan pakaian terbaik mereka. Di antara mereka, ada seorang anak bernama Ilham, berusia 12 tahun, yang diam-diam menyimpan pertanyaan besar di hatinya.

 

“Ustaz, kenapa kita merayakan Maulid Nabi? Bukankah Nabi sudah lama wafat?” tanya Ilham saat duduk di serambi masjid, menunggu acara dimulai.

 

Ustaz Rahman tersenyum, lalu menatap langit yang mulai memerah. “Ilham, Maulid Nabi bukan hanya tentang mengenang kelahiran beliau. Ini tentang menghidupkan kembali akhlak dan kasih sayang yang beliau ajarkan. Kita tidak hanya mengenang, kita meneladani.”

 

Ilham terdiam. Kata-kata itu menggugahnya.

 

Malam pun tiba. Masjid dipenuhi cahaya lampu dan lantunan shalawat menggema. Di tengah keramaian, Ilham memperhatikan seorang ibu tua yang kesulitan membawa makanan untuk jamaah. Tanpa ragu, ia berlari membantu. Tak ada yang menyuruhnya. Ia hanya teringat cerita tentang Nabi yang selalu ringan tangan dan penuh kasih.

 

Ustaz Rahman melihat dari kejauhan, tersenyum haru. “Itulah makna Maulid,” gumamnya.

 

Sejak malam itu, Ilham berubah. Ia mulai rajin membantu di masjid, menyapa tetangga dengan senyum, dan membaca kisah-kisah Nabi setiap malam. Bagi Ilham, Maulid Nabi bukan lagi sekadar acara tahunan. Ia adalah titik awal perjalanan cinta dan keteladanan.

 

By: Bagus X AKL 1

Exit mobile version