Skanesasoo.com | Mojokerto 30 September 2025 Jawa Timur. SMKN 1 SOOKO Kelas X Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) 1 & 2 mengadakan pameran seni Tipografi yang berkolaborasi dengan mata pelajaran matematika, bertempat di panggung utama sekolah, karya karya yang memukau disaksikan oleh seluruh siswa siswi saat jam istirahat. Sekitar kurang lebih 60 karya anak DKV dipertontonkan dihadapan semua mata pengunjung pameran.
Kolaborasi antara seni dan ilmu pengetahuan semakin banyak dieksplorasi di dunia pendidikan. Salah satu contohnya adalah pameran yang menggabungkan tipografi dengan prinsip-prinsip matematika. Pameran ini bukan sekadar ajang memamerkan karya siswa, tetapi juga ruang belajar kreatif yang menghubungkan logika dengan estetika. Selama ini, matematika sering dianggap sebagai mata pelajaran yang monoton dan sulit dipahami. Melalui pendekatan kolaboratif ini, guru berharap siswa dapat melihat sisi lain matematika yang lebih menyenangkan dan aplikatif.
Menurut Bu Fitri, guru matematika sekaligus narasumber dalam pameran ini, konsep utama yang diusung adalah mengubah pandangan siswa terhadap matematika.
“Selama ini matematika sering dianggap monoton. Lewat kolaborasi ini, kami ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda agar siswa lebih tertarik mempelajarinya, sekaligus mengeksplorasi potensi matematika dalam dunia desain,” jelasnya.
Dalam pameran ini, siswa diajak untuk menghubungkan elemen seni tipografi dengan prinsip matematika seperti simetri, proporsi, dan geometri. Meskipun awalnya cukup menantang, lama-kelamaan mereka terbiasa dan mampu mengeksplorasi dengan lebih baik.
“Saat diaplikasikan ke proyek nyata, mereka jadi lebih memahami bahwa matematika tidak sekadar menghitung, tetapi juga memiliki peran penting dalam karya visual,” tambah Bu Fitri.
Matematika terbukti memperkuat nilai estetika tipografi, khususnya dalam hal skala dan proporsi. Dalam proses memperbesar atau memperkecil desain huruf, siswa dilatih untuk menggunakan perhitungan yang tepat agar bentuk tetap seimbang.
“Kalau skalanya tidak konsisten, karya bisa terlihat aneh. Jadi matematika membantu menjaga harmoni visual,” tegasnya.
Tidak bisa dipungkiri, menggabungkan seni visual dengan logika matematika menghadirkan tantangan besar. Siswa yang belum terbiasa sering kali kesulitan di tahap awal. Namun, pameran ini justru menjadi sarana latihan agar mereka lebih disiplin, terarah, dan berani mencoba hal baru. “Dari yang awalnya meraba-raba, harapannya mereka bisa terbiasa sehingga lebih mudah berkarya di masa depan,” ungkap Bu Fitri.
Dalam pameran ini, beberapa karya dinilai cukup berhasil menampilkan keseimbangan antara kreativitas tipografi dan ketepatan matematika. Meski belum sempurna, capaian siswa kelas 10 ini sudah dianggap sebagai langkah maju yang patut diapresiasi.
“Ada karya yang sudah masuk ke konteks tipografi yang kami inginkan, walaupun baru sekitar 20%. Tapi untuk anak kelas 10, ini sudah bagus sekali,” katanya.
Pameran ini bukan hanya tentang menampilkan karya seni, tetapi juga sarana untuk mendekatkan siswa pada matematika dengan cara yang lebih bersahabat. Harapannya, siswa tidak lagi menganggap matematika sebagai sulit, melainkan sebagai bekal penting dalam berkarya. “Ke depannya, kami berharap siswa bisa lebih siap menghadapi dunia kerja, terutama di industri kreatif dan periklanan, dengan karya yang maksimal dan berdaya saing,” tutup Bu Fitri.
| Ninda dan akhsan




