Menoreh Warna Nusantara. Lomba Membatik SMKN 1 Sooko Wujudkan Cinta Budaya di Kalangan Pelajar

Skanesasoo.com | Mojokerto Pada Kamis, 16 Oktober 2025, Jawa Timur. Panggung utama SMKN 1 Sooko dipenuhi suasana semangat dan kreativitas. Sejak pukul 08.00 pagi, peserta Lomba Membatik yang merupakan perwakilan dari setiap kelas sudah bersiap mengenakan seragam batik khas Skanesasoo. Mereka membawa perlengkapan seperti buku gambar besar, krayon, serta spidol untuk menciptakan karya batik sesuai kreativitas masing-masing. Perlombaan berlangsung hingga pukul 12.00 WIB dan diwarnai antusiasme tinggi dari seluruh peserta.

Keputusan untuk melibatkan satu perwakilan dari setiap kelas dibuat demi menjaga kelancaran proses belajar mengajar. Hal ini ditegaskan oleh Shafa dan Maya selaku perwakilan Sekbid 8 OSIS SMKN 1 Sooko. “Keputusan ini dibuat agar KBM tetap berjalan normal. Dengan satu perwakilan, peserta bisa fokus dan panitia dapat mengatur perlengkapan dengan lebih efisien,” jelas keduanya. Mereka menambahkan, “Kalau pesertanya terlalu banyak, kami khawatir tempat tidak mencukupi dan pelaksanaan menjadi kurang maksimal.”

Lomba membatik ini sejatinya direncanakan bertepatan dengan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober 2025. Namun, panitia memutuskan untuk mengundur pelaksanaan menjadi 16 Oktober karena beberapa alasan teknis. Shafa dan Maya menjelaskan, “Rencana awalnya memang ingin disesuaikan dengan kegiatan sekolah, tapi pelaksanaannya tetap bertepatan dengan Hari Batik agar lebih bermakna.” Mereka kemudian menambahkan bahwa pada 2 Oktober kegiatan belajar mengajar masih padat dan kesiapan tempat belum maksimal, sehingga tanggal 16 Oktober dipilih agar pelaksanaan lebih kondusif.

Gagasan lomba ini berasal dari keinginan OSIS untuk menumbuhkan kecintaan siswa terhadap budaya Indonesia, khususnya batik. “Kami ingin teman-teman lebih mengenal proses batik, menghargai budaya, dan berani menunjukkan kreativitasnya,” ungkap Shafa dan Maya. Kebebasan tema diberikan pada peserta, dengan pengecualian motif kotak-kotak yang mirip karya anak-anak SD. Peserta juga tidak diperbolehkan membawa contoh gambar untuk menjaga orisinalitas karya.

Dalam proses persiapan, panitia mengakui adanya kendala kecil seperti kekurangan kertas dan bahan menggambar. Namun seluruh masalah berhasil diatasi dengan cepat agar perlombaan tetap berjalan lancar. Penilaian dilakukan oleh bapak dan ibu guru yang dipilih berdasarkan pengalaman dalam menilai karya seni. Kriteria utamanya meliputi orisinalitas, kreativitas, dan estetika.

Setelah proses penjurian selesai, semua karya dikembalikan kepada masing-masing peserta atau kelas mereka. Hal ini dilakukan agar karya tersebut dapat menjadi dokumentasi dan kenang-kenangan, sekaligus bukti kreativitas siswa dalam melestarikan budaya bangsa.

Di akhir kegiatan, Shafa dan Maya menyampaikan harapan besar terhadap keberlanjutan lomba ini. “Semoga lewat kegiatan ini, teman-teman semakin mencintai budaya Indonesia,” ujar mereka. Mereka juga berharap kegiatan tersebut dapat dikembangkan lebih baik setiap tahun dan diikuti lebih banyak peserta.

Melalui goresan warna di atas kertas, para siswa SMKN 1 Sooko menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat diwujudkan dengan cara sederhana namun penuh makna. Batik tidak hanya hidup sebagai motif, tetapi juga sebagai identitas yang tumbuh di hati generasi muda.

 

|Ninda, Ausyah, Fano, Bagas, Salwa, Selfa

Penulis: Ninda, Ausyah, Fano, Bagas, Salwa, SelfaEditor: Ausyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *